Setan apa yang paling kamu takuti? Kalau saya sih paling takut dengan yang namanya pocong. Pokoknya jauh lebih takut ketemu atau kepikiran dengan pocong dibanding ketemu dengan setan lain semacam kuntilanak, sundelbolong, buto ijo, atau wewe gombel. Nah, omong-omong tentang film horror. Aku berpikir, mengapa sih film horror selalu mampu menarik minat penonton indonesia. memang tidak semua ya, tergantung jalan cerita serta eksekusi. Horror kalau zonk juga gak bakal dilirik sama penonton, tapi mengapa tema ini disukai oleh penonton?
Kalau menurut
pendapatku sih, karena sering mendengar kisah-kisah horror sih. Mau pas di
kota, di desa, sering sekali mendengar kisah-kisah horror yang tidak bisa masuk
akal tapi dipercaya oleh Masyarakat. Kupikir hal ini hanya ada di desa, tapi di
kota pun juga pengaruh horror ini sangat kentara. Memang sih ada orang-orang
yang sangat logis dan sangat mengandalkan science dalam memandang segala fenomena,
namun jauh lebih banyak orang-orang yang menghubungkan fenomena dalam kehidupan
sehari-hari dengan hal-hal yang berbau klenik. Contoh paling gampang adalah
kisah yang sempat viral adanya tuduhan babi ngepet di Bekasi dulu yang ternyata
merupakan rekayasa. Atau tuduhan seseorang punya pesugihan hanya gara-gara dia
selalu ada di rumah tidak bekerja selayaknya orang namun selalu mendapat
income, padahal sang tertuduh memang bekerja melalui media internet. Hal yang
simpel ini membuat kita berpikir bahwa hal-hal tidak logis ini paling mudah
ditemukan, dan menurutku juga jawaban paling gampang dari banyak hal yang
terjadi dalam kehidupan daripada sibuk berpikir logis mengenai fenomena
tersebut.
Apalagi kalau
kisah-kisah itu menjadi viral. Misalnya saja kisah gundul pocong Walisdi, atau
kisah di ambang kematian, belum lagi kisah sewu dino yang juga pernah viral di
twitter. Berbagai kisah horror ini yang viral di media sosial tentu membuat
orang menjadi penasaran, seperti apa sih saat kisah tertulis ini diubah menjadi
media visual. Apalagi yang menjadi pangsa pasar dari film film horror merupakan
generasi muda yang juga sangat terpengaruh oleh media sosial , maka potensi
untuk mendulang cuan melalui film horror itu menjadi sangat tinggi.
Berbagai kisah
yang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari kemudian diubah menjadi film tentu
menjadi daya tarik bagi penonton indonesia. tentu ini jauh lebih nyambung
daripada membuat film dengan tokoh utama adalah manusia serigala atau drakula
ala ala film barat hehehehe. Film horror juga berkaitan dengan kehidupan beragama.
Agama umumnya memiliki keyakinan bahwa ada kehidupan tak kasat mata di dunia
ini yang juga eksis selain manusia. Misalnya saja film dengan tema pocong. Itu
mengingatkanku aja bahwa sesudah kita mati, kita pasti akan berakhir dengan
bentuk ditutup kain kafan seperti pocong. Melihat setan pocong seperti melihat
kehidupan kita di masa yang akan datang saat kematian sudah tiba. Bukankah kita
semua sedang antri untuk meninggalkan dunia ini dan bagi umat muslim kita akan
berakhir dengan bentuk pocong? Jadi setan pocong pasti paling bikin takut.
Belum lagi,
dalam agama juga diajarkan setan atau jin akan mengganggu umat manusia dalam
berbagai bentuk, mulai dari seperti manusia hingga berubah bentuk seperti bentuk-bentuk
setan yang kita kenal pada umumnya. Biasanya kita hanya mendengarkan deskripsi
cerita dan mengimajinasi sosok makhluk halus itu, maka dalam film ini kita bisa
melihat visual seperti apa, walau itu belum tentu sama dengan imajinasi kita.
Selama agama masih menjadi hal yang wajib dan ditanamkan di dalam diri Masyarakat
sejak kecil, maka film horror yang berbau klenik juga tidak akan punah, karena horror
yang muncul itu juga masih relate dengan
Masyarakat dan agama, terkhusus Islam (jika bicara pocong ya, hehehe)
Menonton film horror
juga bisa memicu adrenalin. Sensasi ketakutan, teriak-teriak itu jujur saja
nagih sih. Aku masih ingat kalau waktu kecil nonton film horror itu suka banget
nutup wajah pake bantal atau jaket kalau ada adegan setan. Tapi tetap saja
nonton. Di bioskop juga sama, pas muncul adegan setan atau menyeramkan, maka
tetap saja menutup mata, atau menutup wajah dengan jaket atau apalah. Belum lagi,
menonton film jenis ini tentu tidak enak kalau hanya menonton sendiri, harus
menonton bareng teman-teman untuk merasakan sensasi kengerian itu. Tentu ini
membuat penonton menjadi banyak dengan sendirinya.
Kisah-kisah horror
ini juga sudah tertanam sejak kecil sehingga hubungan dengan kita menjadi
sangat dekat. Aku masih ingat sejak masih kecil sudah sering mendengar kisah
pocong, wewe gombel yang suka menyembunyikan anak kecil, kuntilanak, pesugihan.
Bayangkan kalau sejak kecil sudah tertanam dan disosialisasikan berbagai kisah
seram (dulu aku suka baca majalah misteri dan majalah liberty yang banyak kisah
seram sih) maka mau mencoba berpikir serratus persen dengan menggunakan logika
itu menjadi sangat susah. Bukan berarti segala sesuatu dihubungkan dengan
hal-hal klenik kalau terjadi apa-apa, namun ada saat-saat tertentu dimana
tiba-tiba kepikiran jangan-jangan ada sesuatu yang sedang terjadi dan tidak
bisa dilogika.
Film horror itu
juga bisa menjadi sarana melepaskan stress lho. Biasanya saat stress itu kan
kita ingin berteriak kencang, tapi tidak bisa melakukan hal itu. Nah, dengan
menonton film horror maka kita bisa berteriak sekencang-kencangnya saat
menonton (tentu di saat yang tepat ya) mulai dari saat adegan kemunculan setan,
atau adegan jump scare yang mengagetkan penonton, terkesan sepele tapi kayak
puas saja bisa tiba-tiba teriak gitu saat adegan jumpscare. Film horror juga
seringnya sering digunakan untuk uji nyali. Aku masih ingat dengan
ponakan-ponakanku di depan laptop. Aku sedang menonton film conjuring, udah aku
bilang bukan untuk ditonton anak-anak, tapi ponakan-ponakanku masih aja ngeyel
padahal masih SD. Mumpung yang nonton tidak satu orang tapi banyak, jadi mereka
berani menonton. Ada rasa kepuasan
tersendiri saat berhasil membuktikan bahwa kita berani menonton film horror dari
awal sampai akhir tanpa henti. Hihihihihihihihihi (nggak tahu deh, ngefek ke
mindset mereka gak , misal malam-malam gak berani ke toilet sendirian gitu
wkwkwkwk)
Nah, menurutku,
film horror yang sudah menjadi viral di media sosial sangat besar kemungkinan
akan menjadi laku. Bukankah KKN penari, Di Ambang Kematian, Sewu Dino, maupun
Pocong Gundul itu viral di media sosial dan akhirnya laku di pasaran. Bisa sih
membuat kisah horror yang bukan dari kisah viral, tapi penulis naskahnya harus
ok agar mampu menarik minat penonton seperti Pengabdi Setan atau Perempuan Tanah jahanam. Tetapi
kalau bisa mengambil kisah yang sudah viral dan peluang mendapatkan cuan lebih
jelas, mengapa harus membuat naskah baru yang bisa saja buang waktu dan
berjudi? Yang jelas aku tetap suka aja sih film horror dan lagi menunggu film
Sijjin versi Indonesia, pasti seru kalau melihat versi Turki yang ok punya. Bagaimana
pendapat kalian?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar