Rabu, 01 November 2023

Pedagang Konvensional perlu Beradaptasi dengan Perubahan Sosial

 


Beberapa waktu lalu sedang viral bahwa pedagang Tanah Abang meminta agar seluruh online shop seperti Shoopee, Lazada dll ditutup agar mereka bisa survive. Mungkin karena keberhasilan pedagang konvensional yang memaksa pemerintah menutup tiktok Shop sehingga mereka memaksa agar toko-toko online lain juga ditutup. Netijen pun langsung bereaksi dengan keras mengenai hal ini. Kebanyakan dari yang aku baca adalah menghujat, bukan toko online yang ditutup melainkan tanah abang yang ditutup.

Aku coba kaitkan dengan materi Pelajaran sosiologi yaitu perubahan sosial budaya. Perubahan sosial adalah hal yang niscaya terjadi, tidak bisa dihindari, hanya bisa diperlambat. Gerakan jual beli online ini juga tidak bisa dihindari oleh siapapun, pasti akan terjadi, hanya bisa diperlambat. Faktor apa yang bisa menghambat terjadinya perubahan sosial jual beli secara online ini?

Salah satunya adalah adanya generasi tua. Generasi tua yang gaptek akan teknologi umumnya sudah masuk dalam zona nyaman. Mereka tidak ingin mencoba hal-hal baru dan merasa apa yang mereka miliki itu sudah lebih dari cukup untuk membantu survive. Para pedagang ini mungkin sudah masuk dalam kenyamanan jualan di tempat konvensional dan malas untuk mencoba berjualan secara online. Bagi mereka, penjualan online mungkin dianggap buang-buang waktu karena mereka harus belajar. Sementara generasi tua untuk belajar hal-hal yang baru tentu saja jauh lebih susah daripada generasi muda yang lebih cepat dalam beradaptasi terhadap penggunaan teknologi. Contohnya saya saja, untuk mencoba mengembangkan diri dalam ilmu baru dan teknologi baru terasa malas banget padahal ya situasi gak sibuk-sibuk banget. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu yang begitu semangat dalam belajar hal-hal baru heheheh.

Kasus yang ada di Tanah Abang kalau saya baca-baca rata-rata netijen mengatakan bahwa kawasan itu sangat macet dengan banyak parkir liar dan “preman” di dalamnya. Belum lagi risiko kecopetan sangat tinggi disana sehingga membuat orang malas untuk belanja di sana. Sebelum menuntut online ditutup, lebih baik kondisi pasar Tanah Abang diperbaiki dulu supaya pengunjung nyaman untuk berbelanja di sana. Kebetulan beberapa kali liat meme yang mengilustrasikan reaksi pedagang offline yang malas-malasan dan tertidur saat diminta untuk memperbaiki kondisinya, tapi langsung menjadi garang saat menuntut pedagang online ditutup.  Hal yang menunjukkan tidak adanya niat dari kelompok konvensional untuk berubah dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

 Kalau saya coba kaitkan dengan adanya kepentingan yang sudah tertanam kuat alias vested interested maka bisa nyambung juga. mengapa? Ada banyak orang yang makan dari situasi di pasar. Misalnya saja tukang parkir dan organisasinya. Mereka tentu tidak ingin kehilangan periuk nasi. Mereka pasti ingin mempertahankan kedudukan dan pendapatan. Balik lagi, kondisi yang sudah settle membuat mereka ingin mempertahankan itu. Bagaimana caranya dengan kondisi yang sama tapi pendapatan meningkat, padahal logikanya sepertinya itu tidak mungkin.

Nah, penggunaan toko online di berbagai aplikasi sudah tidak bisa dibendung lagi karena ada banyak faktor pendorong perubahan sosial tersebut. Salah satu faktor pendorongnya adalah sikap mudah menerima hal-hal baru. Hal ini sangat terasa dengan generasi muda atau generasi milenial dan generasi Z yang mudah menerima teknologi baru serta mengaplikasikan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Saudara saya yang usianya sudah diatas lima puluhan malas untuk membuat aplikasi online, bahkan sekadar menggunakan teknologi kartu ATM saja tidak mau karena buat apa, merasa tidak penting. Sementara generasi yang lebih baru, tentu banyak menggunakan berbagai teknologi baru karena lingkungan mereka juga sangat mendukung.

Selain itu, manusia ingin memperbaiki kondisi hidupnya. Di masa pandemic saat banyak orang kehilangan pekerjaan dan sepertinya susah untuk berjualan secara offline, maka dorongan untuk bertahan hidup membuat mereka mau belajar hal baru, yaitu sekadar jualan atau reseller online, dengan menggunakan berbagai marketplace, mulai dari promosi barang di berbagai medsos yang dimiliki, maupun menggunakan toko online untuk berjualan. Bukankah dorongan untuk bertahan hidup akan membuat manusia berusaha beradaptasi dengan berbagai cara untuk survive. Saya masih ingat, untuk pertama kalinya saya mencoba untuk berjualan tas secara online sewaktu pandemic kemarin. Padahal sebelum-sebelumnya saya paling malas untuk berjualan barang karena saya merasa saya tidak mampu berjualan barang apapun. Yah, lumayan sih ada yang laku terjual ada yang tidak tapi setidaknya menambah pengalaman saja untuk bisa tahu caranya berjualan secara online itu harus seperti apa, hehehe. Belum lagi kalau berjualan offline itu harus memiliki lapak. Permasalahannya tidak semua orang bisa sewa lapak, baik itu di pasar atau di ruko. Mau nyerobot pinggir jalan untuk jualan juga harus mikir-mikir dulu, walau banyak yang menggunakan cara seperti itu, tapi tergantung barang yang dijual dan tingkat keberanian juga. selain itu tidak bisa sembarangan serobot pinggir jalan juga, harus banyak berurusan dengan mafia mafia mungkin wkwkwkkwkwkw.

Sistem pendidikan sekarang juga semakin maju yang memungkinkan penggunaan teknologi semakin meluas. Saat di bangku sekolah, siswa sudah diajarkan untuk menggunakan berbagai gadget untuk belajar mereka, maka mereka juga akan menggunakan gadget untuk berbagai keperluan lain, salah satunya untuk mencoba berjualan barang yang mereka miliki. Di status medos saya terutama WA, banyak sekali orang berjualan produk dan sah sah saja karena itu bagian dari cara promosi sih.

Nah, dari berbagai analisis diatas, maka perubahan sosial tidak bisa dicegah, yang bisa dilakukan para pedagang Tanah Abang adalah beradaptasi dengan perubahan zaman. Perubahan itu menuntut mereka selain memiliki lapak di pasar juga harus mempromosikan produk-produk mereka di media sosial maupun di berbagai toko shop online. Saya masih ingat seorang murid saya selain orang tuanya memiliki toko pakaian di pasar, dia juga sering live di tiktok untuk jualan produk pakaian kaos yang dimiliki serta memiliki toko di Tokopedia dan Shopee. Nah, pedagang-pedagang konvensional lain harusnya juga melakukan hal yang sama. bukankah tekanan untuk mempertahankan hidup harusnya mampu memaksa mereka beradaptasi dengan hal-hal baru ini? Bagaimana pendapat kalian?

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Faktor Penyebab film Libur Lebaran pasti Cuan

  Hore, akhirnya 4 film lebaran tahun ini mampu menembus satu juta penonton. Selamat buat pabrik gula (lebih dari 2 juta penonton), Qodrat 2...