Beberapa waktu lalu sedang viral bahwa pedagang Tanah Abang meminta agar seluruh online shop seperti Shoopee, Lazada dll ditutup agar mereka bisa survive. Mungkin karena keberhasilan pedagang konvensional yang memaksa pemerintah menutup tiktok Shop sehingga mereka memaksa agar toko-toko online lain juga ditutup. Netijen pun langsung bereaksi dengan keras mengenai hal ini. Kebanyakan dari yang aku baca adalah menghujat, bukan toko online yang ditutup melainkan tanah abang yang ditutup.
Aku coba kaitkan
dengan materi Pelajaran sosiologi yaitu perubahan sosial budaya. Perubahan sosial
adalah hal yang niscaya terjadi, tidak bisa dihindari, hanya bisa diperlambat. Gerakan
jual beli online ini juga tidak bisa dihindari oleh siapapun, pasti akan
terjadi, hanya bisa diperlambat. Faktor apa yang bisa menghambat terjadinya
perubahan sosial jual beli secara online ini?
Salah satunya
adalah adanya generasi tua. Generasi tua yang gaptek akan teknologi umumnya
sudah masuk dalam zona nyaman. Mereka tidak ingin mencoba hal-hal baru dan
merasa apa yang mereka miliki itu sudah lebih dari cukup untuk membantu
survive. Para pedagang ini mungkin sudah masuk dalam kenyamanan jualan di tempat
konvensional dan malas untuk mencoba berjualan secara online. Bagi mereka,
penjualan online mungkin dianggap buang-buang waktu karena mereka harus
belajar. Sementara generasi tua untuk belajar hal-hal yang baru tentu saja jauh
lebih susah daripada generasi muda yang lebih cepat dalam beradaptasi terhadap
penggunaan teknologi. Contohnya saya saja, untuk mencoba mengembangkan diri
dalam ilmu baru dan teknologi baru terasa malas banget padahal ya situasi gak
sibuk-sibuk banget. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu yang begitu
semangat dalam belajar hal-hal baru heheheh.
Kasus yang ada
di Tanah Abang kalau saya baca-baca rata-rata netijen mengatakan bahwa kawasan
itu sangat macet dengan banyak parkir liar dan “preman” di dalamnya. Belum lagi
risiko kecopetan sangat tinggi disana sehingga membuat orang malas untuk
belanja di sana. Sebelum menuntut online ditutup, lebih baik kondisi pasar
Tanah Abang diperbaiki dulu supaya pengunjung nyaman untuk berbelanja di sana. Kebetulan
beberapa kali liat meme yang mengilustrasikan reaksi pedagang offline yang
malas-malasan dan tertidur saat diminta untuk memperbaiki kondisinya, tapi
langsung menjadi garang saat menuntut pedagang online ditutup. Hal yang menunjukkan tidak adanya niat dari
kelompok konvensional untuk berubah dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Kalau saya coba kaitkan dengan adanya
kepentingan yang sudah tertanam kuat alias vested interested maka bisa
nyambung juga. mengapa? Ada banyak orang yang makan dari situasi di pasar. Misalnya
saja tukang parkir dan organisasinya. Mereka tentu tidak ingin kehilangan
periuk nasi. Mereka pasti ingin mempertahankan kedudukan dan pendapatan. Balik lagi,
kondisi yang sudah settle membuat mereka ingin mempertahankan itu. Bagaimana caranya
dengan kondisi yang sama tapi pendapatan meningkat, padahal logikanya
sepertinya itu tidak mungkin.
Nah, penggunaan toko
online di berbagai aplikasi sudah tidak bisa dibendung lagi karena ada banyak
faktor pendorong perubahan sosial tersebut. Salah satu faktor pendorongnya
adalah sikap mudah menerima hal-hal baru. Hal ini sangat terasa dengan generasi
muda atau generasi milenial dan generasi Z yang mudah menerima teknologi baru
serta mengaplikasikan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Saudara saya yang
usianya sudah diatas lima puluhan malas untuk membuat aplikasi online, bahkan
sekadar menggunakan teknologi kartu ATM saja tidak mau karena buat apa, merasa
tidak penting. Sementara generasi yang lebih baru, tentu banyak menggunakan
berbagai teknologi baru karena lingkungan mereka juga sangat mendukung.
Selain itu, manusia
ingin memperbaiki kondisi hidupnya. Di masa pandemic saat banyak orang
kehilangan pekerjaan dan sepertinya susah untuk berjualan secara offline, maka
dorongan untuk bertahan hidup membuat mereka mau belajar hal baru, yaitu sekadar
jualan atau reseller online, dengan menggunakan berbagai marketplace, mulai
dari promosi barang di berbagai medsos yang dimiliki, maupun menggunakan toko
online untuk berjualan. Bukankah dorongan untuk bertahan hidup akan membuat
manusia berusaha beradaptasi dengan berbagai cara untuk survive. Saya masih
ingat, untuk pertama kalinya saya mencoba untuk berjualan tas secara online
sewaktu pandemic kemarin. Padahal sebelum-sebelumnya saya paling malas untuk
berjualan barang karena saya merasa saya tidak mampu berjualan barang apapun. Yah,
lumayan sih ada yang laku terjual ada yang tidak tapi setidaknya menambah
pengalaman saja untuk bisa tahu caranya berjualan secara online itu harus
seperti apa, hehehe. Belum lagi kalau berjualan offline itu harus memiliki
lapak. Permasalahannya tidak semua orang bisa sewa lapak, baik itu di pasar
atau di ruko. Mau nyerobot pinggir jalan untuk jualan juga harus mikir-mikir
dulu, walau banyak yang menggunakan cara seperti itu, tapi tergantung barang
yang dijual dan tingkat keberanian juga. selain itu tidak bisa sembarangan
serobot pinggir jalan juga, harus banyak berurusan dengan mafia mafia mungkin wkwkwkkwkwkw.
Sistem pendidikan
sekarang juga semakin maju yang memungkinkan penggunaan teknologi semakin
meluas. Saat di bangku sekolah, siswa sudah diajarkan untuk menggunakan
berbagai gadget untuk belajar mereka, maka mereka juga akan menggunakan gadget
untuk berbagai keperluan lain, salah satunya untuk mencoba berjualan barang
yang mereka miliki. Di status medos saya terutama WA, banyak sekali orang
berjualan produk dan sah sah saja karena itu bagian dari cara promosi sih.
Nah, dari
berbagai analisis diatas, maka perubahan sosial tidak bisa dicegah, yang bisa
dilakukan para pedagang Tanah Abang adalah beradaptasi dengan perubahan zaman. Perubahan
itu menuntut mereka selain memiliki lapak di pasar juga harus mempromosikan
produk-produk mereka di media sosial maupun di berbagai toko shop online. Saya masih
ingat seorang murid saya selain orang tuanya memiliki toko pakaian di pasar,
dia juga sering live di tiktok untuk jualan produk pakaian kaos yang dimiliki
serta memiliki toko di Tokopedia dan Shopee. Nah, pedagang-pedagang konvensional
lain harusnya juga melakukan hal yang sama. bukankah tekanan untuk
mempertahankan hidup harusnya mampu memaksa mereka beradaptasi dengan hal-hal
baru ini? Bagaimana pendapat kalian?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar