![]() |
| kompasiana.com |
Saat kalian masih kecil, kalian suka liat film Cinderela tidak?
Kalian suka lihat serial Doraemon yang biasa tayang tiap hari minggu itu? Saat
kalian nonton film Doraemon, apakah kalian berpikir kantong ajaibnya doraemon
itu pakai logika tidak? Saat kalian mendengar cerita cerita dongeng , kalian
berimajinasi atau justru menggunakan otak logika kalian?
aku bahas ini gara gara baca di thread banyak pro kontra terhadap film Jumbo yang sedang booming sekarang ini ( aku nonton filmnya di hari pertama hehehe). Kebanyakan orang yang kontra adalah orang orang dewasa yang menggunakan logikanya, walau saya sendiri hampir terjebak di logika ini. Apa saja sih yang jadi bahasan orang dewasa sehingga film Jumbo tidak layak ditonton? Ok, aku akan bahas beberapa yang ramai di Thread.
Jumbo mengajarkan tentang hantu, hal yang harusnya tidak
boleh kita percayai sebagai umat beragama. Hadehhhhhhh greget deh, Namanya aja
kartun, terus harus yang gimana sih? Aku dulu pas masih kecil malah suka lihat
serial Ranma ½ (aduh, ketahuan banget usiaku nih wkwkwkw). Sosok yang bisa
berubah laki-laki menjadi perempuan kalau terkena air panas (atau air hangat
ya, lupa aku). Kalau pakai logika orang dewasa ya bakal aneh dunk, masa sih
orang bisa berubah kelamin dengan mudahnya. Walau aku piker saat masih kecil,
asik juga ya bisa berubah jadi laki laki dan perempuan kalau lagi gabut, hahahahaha
Atau siapa sih yang tidak suka liat serial Naruto maupun One
Piiece. Kalau dipikir piker ya gak bisa dilogika dunk kalau si tokoh utama
alias Luffy bisa melar tangan dan kakinya, atau si Chopper yang bisa bicara,
padahal dia kan hewan (dia rusa atau beruang sih?).
Bukankah banyak banget cerita rakyat yang dibaca anak-anak
atau pas dibuat film juga pasti tidak akan bisa diterima oleh anak-anak. Bagaimana
ceritanya dalam semalam kok 1000 candi
bisa dibangun, pakai bantuan jin lho, jelas itu musrik, dosa karena ada unru
gaibnya kan? Kisah timun mas yang si Mbok Randa yang minta anak kok ke raksasa
hijau yang gaib, kenapa tidak minta anak ke Tuhan, dikasih suami atau bagaimana
gitu. Saat Cinderela ketemu peri yang memberikan
keajaiban agar terlihat cantic hanya sampai jam 12 malam, gimana tuh? Itu juga
ada unsur mistis dunk. Apalagi pinokio kok bisa hidup dan berhidung Panjang jika
bohong, padahal dia dari kayu. Hayo, jelas ngeri deh jadinya.
Adegan kejar-kejaran setan pakai gelombang radio juga tidak
bisa dilogika. Masa, menangkap setan melalui gelombang radio. Yah, walau aku
pernah liat film horror apa ya, yang mencoba mencari keberadaan setan-setan
melalui gelombang radio (ada yang bisa bantu film barat apa ya, lupa aku), tapi
ya hal seperti ini tidak perlu diributkan. Aku sangat yakin, kalau anak-anak
usia dibawah 10 tahun menonton mereka tidak akan peduli kok dan tidak akan
berpikir logika kenapa pakai radio ya, caranya bagaimana ya?
Belum lagi ada lagi yang bilang bahwa Jumbo mengajarkan
pembulian. Hadehhhhhh aku gemes dengan akun-akun yang komen kayak gini. La Namanya
komik, novel, film atau apapun kan harus ada tokoh yang mendapat peran antagonis,
dalam hal ini diwakili Atta yang melalukan perundungan terhadap Don karena
badannya gemuk. tapi ini kan pakai kacamata orang dewasa, terus harus buat film
yang seperti apa sih? Hal-hal yang remeh malah dibuat jadi besar.
Kemudian cerita yang terlalu berat karena penggusuran
kampung dan makam melalui Pak Kades. Nak-anak tidak akan paham dengan isu
penggusuran kampung maupun makam makam untuk kegiatan ekonomi. Hadeh bapak ibu,
jadi gemes deh. Padahal ceritanya sebenarnya sudah dibuat seringan mungkin agar
anak anak baru masuk SD bisa memahami dengan mudah, la kok otak orang dewasa ngerecoki
anak-anak dengan pikiran dewasa mereka. Standar anak disini harus usia berapa
sih? padahal yang dibahas justru ringan
dan mudah dicerna (aku aja yang nonton malah greget karena kayak nonton film
anak TK wkwkkwkwkwkkwkw)
Banyak sekali yang komen , saat menonton si anak malah focus
itu orang tuanya si Don kemana, tentang tiga kambing, maupun jurus siap siap
untuk melawan musuh. Sesederhana itu jalan pikiran anak-anak. Bukankah bapak
ibu dulu pernah jadi anak-anak dan menikmati aja pintu ajaib yang dimiliki doraemon.
Bahkan kalian pasti juga tidak akan berpikir itu caranya gimana ya, kok kalau
pakai baling-baling bamboo bisa terbang, atau makan semacam permen maka bisa bicara Bahasa lain, atau pakai sinar
pengecil bisa kecil ukuran tubuhnya. Kalian tidak berpikir kesitu kan, hanya
sekadar menikmati saja. Baru saat dewasa aku mikir, kok gak logis ya,
baling-baling bamboo bisa mengangkat tubuh seperti itu dengan ditempel ke
kepala, bukannya seharusnya kepala yang ditempeli baling-baling bamboo jadi
putus ya? Wkwkwkwwk
Jadi,
kalau melihat film Jumbo menemani anak-anak, gunakan cara berpikir anak-anak
yang penuh fantasi dan imajinasi, bukan dengan pikiran logika. Akhir kata,
selamat buat Jumbo yang mampu menembus lebih dari sejuta penonton (terakhir
update 1,3 juta penonton). Kalian sudah nonton belum?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar